Bloody Hands

https://id.pinterest.com/pin/27584616453431824/?nic_v1=1anmcTlqHEdcIGdwy26f2MXl7VUjr81%2FaLlc4uJdzCeqGLVmIok7KWRpB4tVQiuivM
pinterest/gia

Sudah satu minggu sejak pemakaman Ayah, aku masih merasakan keganjilan yang aneh. Pertama, tentu saja sangat sulit bagiku untuk menerima, bahwa ternyata Ibuku sendirilah yang membunuh Ayahku. Dengan sebuah pisau, Ibu menusuk Ayah berkali-kali di tubuhnya. Meskipun memang mereka sering bertengkar belakangan ini, tetapi tetap saja aku tak menyangka. Sebab yang ku tahu, Ibu adalah sosok penyayang yang tak mungkin tega berbuat sekeji itu. Kedua, saudara lelakiku, Davin, mengatakan bahwa ia beberapa kali melihatku berada di kamar kedua orangtua kami pada tengah malam. Jelas itu bukan aku. Aku bukan penderita insom, dan lagipula untuk apa aku mau memasuki tempat dimana Ayahku terbunuh. Mengerikan. Aku ini kikuk, tak mungkin seberani itu. Jadi kalau bukan aku, dan tak mungkin Ibu—sebab ia sedang berada di balik jeruji, siapa sosok yang sering dilihat oleh Davin? Kemudian hal ketiga yang sama misterinya; Sejak Ayahku meninggal sampai malam tadi, aku sering dihantui oleh mimpi-mimpi yang aneh.

Di dalam mimpi, aku selalu melihat sepasang tangan yang berdarah. Aku tak pernah ambil pusing persoalan yang tak nyata seperti halnya mimpi. Namun kali ini berbeda, mimpi-mimpiku itu menunjukkan 'sesuatu'. Dihari ke-tiga kepergian Ayah, aku bermimpi melihat Ibuku. Wajahnya pucat pasih dan terlihat cemas. Ia berdiri, memandangiku dengan pisau yang berlumuran darah ditangannya. Keesokan harinya, Ibu menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib dan mengakui segala perbuatannya. Jadi, itulah mengapa aku percaya semuanya bukan hanya sekedar mimpi. Mimpi-mimpiku mengungkapkan sesuatu. Tetapi yang masih belum ku mengerti, meski kasusnya telah terungkap mimpi-mimpi itu masih saja menggentayangiku. Aku tak lagi melihat Ibu. Hanya ada sepasang tangan yang dipenuhi darah, didalam mimpiku, setiap malam. Jangan berpikir bahwa aku baik-baik saja, semua hal itu membuatku sinting. Dan ku rasa Davin dapat melihatnya.

Hari ini adalah jadwal konselingku yang sudah diatur oleh Davin untuk aku menemui psikiater. Ini merupakan pengalaman yang pertama bagiku, dan aku kaget bukan main. Aku didiagnosis somnabulisme, sebuah gangguan tidur sambil berjalan. “Tenang saja, masih bisa diatasi.” Ucap dokter Dean, aku jadi sedikit tenang. Akhirnya, aku pulang dengan membawa beberapa obat yang harus ku telan untuk satu pekan. Setelah itu, aku harus menemuinya lagi.

Aku bertanya-tanya, apakah obat ini akan menolongku dari mimpi-mimpi itu? Ahh, sayangnya tidak. Malam ini aku melihatnya lagi, sepasang tangan yang dipenuhi darah. Seperti apa yang kamu dan aku tahu, ku pikir selama ini kedua tangan itu milik Ibu. Tetapi ternyata aku salah. Malam ini, Ibu datang lagi ke dalam mimpiku. Dia terlihat begitu cantik, anggun, dan bersih dengan pakaiannya yang serba putih, dan yang paling penting adalah tak ada setitik noda pun di tangannya. Ibu menghampiriku dan berbisik, “Tenang saja, sudah ibu atasi. Tetapi kau harus bangun sekarang”.

Paginya aku bangun dengan perasaan yang sangat bersalah. Aku memandangi diriku sendiri di cermin yang berhadapan tepat dengan tempat tidurku. Tanganku berlumuran darah, apakah aku masih bermimpi? Karna takut dan bingung, langsung saja aku berlari ke kamar Davin. Tetapi yang kutemukan justru lebih mengerikan. Betapa terkejutnya aku melihat Davin yang bermandikan darah, terkujur mati di atas tempat tidurnya. Ini pemandangan yang sama, ketika aku melihat Ayahku saat kematiannya. Merasa begitu panik, aku kembali ke kamarku, mengambil obat-obatku yang sepenuhnya masih tersegal.


Oleh; Silvia Amanda Hakim.

Komentar