![]() |
| pinterest/gia |
Sudah satu minggu sejak
pemakaman Ayah, aku masih merasakan keganjilan yang aneh. Pertama, tentu
saja sangat sulit bagiku untuk menerima, bahwa ternyata Ibuku sendirilah yang
membunuh Ayahku. Dengan sebuah pisau, Ibu menusuk Ayah berkali-kali di
tubuhnya. Meskipun memang mereka sering bertengkar belakangan ini, tetapi tetap
saja aku tak menyangka. Sebab yang ku tahu, Ibu adalah sosok penyayang yang tak
mungkin tega berbuat sekeji itu. Kedua, saudara lelakiku, Davin, mengatakan
bahwa ia beberapa kali melihatku berada di kamar kedua orangtua kami pada
tengah malam. Jelas itu bukan aku. Aku bukan penderita insom, dan lagipula
untuk apa aku mau memasuki tempat dimana Ayahku terbunuh. Mengerikan. Aku ini
kikuk, tak mungkin seberani itu. Jadi kalau bukan aku, dan tak mungkin
Ibu—sebab ia sedang berada di balik jeruji, siapa sosok yang sering dilihat
oleh Davin? Kemudian hal ketiga yang sama misterinya; Sejak Ayahku meninggal
sampai malam tadi, aku sering dihantui oleh mimpi-mimpi yang aneh.
Di dalam mimpi, aku
selalu melihat sepasang tangan yang berdarah. Aku tak pernah ambil pusing
persoalan yang tak nyata seperti halnya mimpi. Namun kali ini berbeda,
mimpi-mimpiku itu menunjukkan 'sesuatu'. Dihari ke-tiga kepergian Ayah, aku
bermimpi melihat Ibuku. Wajahnya pucat pasih dan terlihat cemas. Ia berdiri,
memandangiku dengan pisau yang berlumuran darah ditangannya. Keesokan harinya,
Ibu menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib dan mengakui segala
perbuatannya. Jadi, itulah mengapa aku percaya semuanya bukan hanya sekedar
mimpi. Mimpi-mimpiku mengungkapkan sesuatu. Tetapi yang masih belum ku
mengerti, meski kasusnya telah terungkap mimpi-mimpi itu masih saja
menggentayangiku. Aku tak lagi melihat Ibu. Hanya ada sepasang tangan yang
dipenuhi darah, didalam mimpiku, setiap malam. Jangan berpikir bahwa aku
baik-baik saja, semua hal itu membuatku sinting. Dan ku rasa Davin dapat
melihatnya.
Hari ini adalah jadwal
konselingku yang sudah diatur oleh Davin untuk aku menemui psikiater. Ini
merupakan pengalaman yang pertama bagiku, dan aku kaget bukan main. Aku
didiagnosis somnabulisme, sebuah gangguan tidur sambil berjalan. “Tenang saja,
masih bisa diatasi.” Ucap dokter Dean, aku jadi sedikit tenang. Akhirnya, aku
pulang dengan membawa beberapa obat yang harus ku telan untuk satu pekan.
Setelah itu, aku harus menemuinya lagi.
Aku bertanya-tanya,
apakah obat ini akan menolongku dari mimpi-mimpi itu? Ahh, sayangnya tidak.
Malam ini aku melihatnya lagi, sepasang tangan yang dipenuhi darah. Seperti apa
yang kamu dan aku tahu, ku pikir selama ini kedua tangan itu milik Ibu. Tetapi
ternyata aku salah. Malam ini, Ibu datang lagi ke dalam mimpiku. Dia terlihat
begitu cantik, anggun, dan bersih dengan pakaiannya yang serba putih, dan yang
paling penting adalah tak ada setitik noda pun di tangannya. Ibu menghampiriku
dan berbisik, “Tenang saja, sudah ibu atasi. Tetapi kau harus bangun sekarang”.
Paginya aku bangun
dengan perasaan yang sangat bersalah. Aku memandangi diriku sendiri di cermin
yang berhadapan tepat dengan tempat tidurku. Tanganku berlumuran darah, apakah
aku masih bermimpi? Karna takut dan bingung, langsung saja aku berlari ke kamar
Davin. Tetapi yang kutemukan justru lebih mengerikan. Betapa terkejutnya aku
melihat Davin yang bermandikan darah, terkujur mati di atas tempat tidurnya.
Ini pemandangan yang sama, ketika aku melihat Ayahku saat kematiannya. Merasa
begitu panik, aku kembali ke kamarku, mengambil obat-obatku yang sepenuhnya
masih tersegal.
Oleh; Silvia Amanda Hakim.

Komentar
Posting Komentar