Opening :
Kita sering
bertanya-tanya: “Apa sih
artinya hidup?
Tapi pernah gak lo mikir… jangan-jangan emang gak ada?
Substance :
Pada awal abad ke-20, ketika dunia dilanda perang, revolusi, dan
ketidakpastian yang brutal, sastra mulai berubah arah. Bukan lagi soal pahlawan, cinta, atau keadilan. Tapi tentang absurditas,
kesepian, dan eksistensi.
Kafka, misalnya.
Tapi di balik absurditas itu, Kafka ngasih tau kita satu hal: kadang hidup memang gak masuk akal. Kita sering terjebak dalam situasi yang gak kita pilih, gak kita pahami, tapi tetap harus kita jalani.
Dan di dunia yang kita tempati ini, perubahan bisa terjadi sewaktu-waktu, dan lo tetap dituntut untuk berfungsi. Bahkan ketika lo merasa nggak lagi dianggap sebagai manusia.
Lalu ada Sartre yang kurang-lebih bilang,
“Hidup itu pada dasarnya kosong.
Gak ada makna bawaan.
Gak ada template.
Kita memang bebas.
Tapi justru karena itu, kita juga bertanggung jawab penuh atas makna yang kita ciptakan sendiri.
Dan kebebasan itu sendiri, sebenarnya... berat."
Closing :
Pada akhirnya, gak ada naskah Tuhan yang bisa lo ikutin mentah-mentah. Setiap
orang tetap harus menafsirkan, lalu menjalani pilihannya sendiri.
Makanya sastra eksistensialis terasa deket. Karena dia gak nyuruh lo jadi
siapa-siapa. Tapi ngasih ruang buat lo mikir:
Kalau semua ini kosong, lo mau isi
dengan apa?
Footage 1 "perang" :
![]() |
| Source: Imperal War Museums (No. Katalog: Q 70181) / Marinir AS bersiap menembak musuh dari parit di Breuvannes-en-Bassigny, Prancis, selama Perang Dunia I. Footage 2 : "Revolusi" Footage 3 : "Ketikpastian yang brutal" Source: Riot on Nevsky prosp Petrograd / Wikimedia CommonsFootage 4 : "Pahlawan" Footage 5 : "Cinta" Footage 6 : "Keadilan" Footage 7 : "Absurditas" Footage 8 : "Kesepian" Footage 9 : "Eksistensi" Footage 10 : "Kafka" Footage 11 : "Manusia yang bangun tidur dan tiba-tiba jadi kecoa" Footage 12 : "Hidup ini kosong. Kita bebas, tapi kita juga yang harus bikin makna itu.” |




.jpg)








Komentar
Posting Komentar