Analisis Psikologis Tokoh-tokoh Dalam Novel "Negeri 5 Menara" - (Tugas Kuliah - On Hold)


ANALISIS PSIKOLOGIS TOKOH-TOKOH DALAM NOVEL “NEGERI 5 MENARA” KARYA A. FUADI
Silvia Amanda Hakim
181010700295 [1]
Program studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Pamulang samandahakim@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan id, ego, dan superego tokoh-tokoh novel 5 Negeri Menara karya A. Fuadi menggunakan pendekatan psikologi sastra. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskritif kualitatif. Berdasarkan  latar  belakang  penelitian  tersebut  analisis  ini bertujuan  untuk  (1)  mendeskripsikan  psikologis  aspek id tokoh-tokoh-tokoh dalam novel (2) mendeskripsikan psikologis aspek ego tokoh-tokoh dalam novel, dan (3) mendeskripsikan psikologis aspek super ego tokoh-tokoh dalam novel. Untuk tercapainya tujuan tersebut ditetapkan tahapan analisis, yaitu pengumpulan  data  psikologis  tokoh  utama dan analisis  data  tokoh  utama  berdasarkan  teori  psiokoanalisis  Sigmund  Freud.
Kata kunci: Novel, 5 Negeri Menara, Psikoanalisis.


1.      Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Pada hakikatnya setiap manusia pada setiap zaman dan setiap tempat melakukan kegiatan bersastra. Oleh karena itu, sastra merupakan bidang kebudayaan manusia yang paling tua yang mendahului cabang-cabang kebudayaan lain. Pada awal kehidupan manusia sastra sudah hadir sebagai media ekspresi pengalaman estetik, manusia berhadapan dengan alam sebagai penjelmaan keindahan. Karya sastra adalah salah satu sarana untuk mengungkapkan masalah manusia dan kemanusiaan melalui karya sastra itu sendiri. Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni. Selain itu, sastra juga merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya dari pada fiksi (Wellek dan Werren, 1993:3-11). Sastra adalah kegiatan kreatif yang menjadi alat mengekspresikan dan menyampaikan pesan ataupun perasaan manusia. Manusia berinteraksi dan bersosialisasi ,banyak sekali cerita dan inspirasi yang harus diutarakan karena sifat mendasar manusia sendiri sebagai makhluk sosial. Sehingga munculah karya sastra baik novel, puisi dan lain-lain yang dijadikan alat mengekspresikan dan mengutarakan pesan tersebut. Perkembangan sastra pesat sekali berkembang dan timbulah sastra sebagai cabang ilmu untuk mengkritisi suatu karya sastra, yaitu kritik sastra. Sastra juga cabang ilmu pengetahuan yang dewasa ini didalami dan dikaji oleh para pakar sastra.
Studi sastra memiliki metode-metode yang absah dan ilmiah, walau tidak selalu sama dengan metode ilmu-ilmu alam. Hanya saja ilmu-ilmu alam berbeda dengan tujuan ilmu-ilmu budaya. Ilmu-ilmu alam mempelajari fakta-fakta yang berulang, sedangkan sejarah mengkaji fakta-fakta yang silih berganti. Karya sastra pada dasarnya bersifat umum dan sekaligus bersifat khusus, atau lebih tepat lagi : individual dan umum. Studi sastra adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berkembang terus-menerus. Dengan berkembangannya ilmu tentang sastra maka bukan hanya unsurunsur yang terdapat didalam sebuah karya sastra saja yang dapat dikaji atau analisis tetapi pada saat ini sastra juga dapat dikaji berdasarkan faktor-faktor yang berasal dari luar sastra itu. Faktor-faktor dari luar karya sastra yaitu sosiologi sastra, psikologi sastra serta antropologi sastra. Sosiologi sastra dianalisis dalam kaitannya dengan masyarakat yang menghasilkannya sebagai latar belakang sosialnya. Antropologi sastra, dibangun atas dasar asumsiasumsi genesis, dalam kaitannya dengan asal usul sastra.
Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis. Artinya, psikologi turut berperan penting dalam penganalisisan sebuah karya sastra dengan bekerja dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut baik dari unsur pengarang, tokoh, maupun pembacanya. Dengan dipusatkannya perhatian pada tokoh-tokoh, maka akan dapat dianalisis konflik batin yang terkandung dalam karya sastra. Jadi, Secara umum dapat disimpulkan bahwa hubungan antara sastra dan psikologi sangat erat hingga melebur dan melahirkan ilmu baru yang disebut dengan “Psikologi Sastra” Menurut Sigmund Freud mengemukakan bahwa kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, [2]yakni sadar atau conscious, prasadar atau preconscious dan tak sadar atau unconscious. Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsi unsur cermati (awareness) dalam setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920-an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran tersebut. Baru pada tahun 1923, Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni id, ego serta Superego.
Dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk mengkaji tentang novel 5 Negeri Menara karya A. Fuadi dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra teori Sigmund Freud dengan menganalisis struktur yang terdapat dalam kejiwaan tokoh-tokoh novel, yaitu id, ego, da super ego.

B.     METODE PENELITIAN
Jenis  penelitian  ini  adalah  metode  kualitatif  yang  bersifat  analisis  isi.  Penelitian kualitatif  dilakukan  dengan  tidak  mengutamakan  pada  angka-angka,  melainkan  menggunakan kedalaman  pemahaman  terhadap  konsep  yang  sedang  dikaji  secara  empiris.
Metode  yang digunakan  dalam  penelitian  ini  ialah  metode  deskriptif.  Metode  deskripstif  dilakukan  dengan mendeskripsikan   data yang   diperoleh   tanpa   mengartikannya   dengan   angka-angka,   tetapi menkankan  pada  pemahaman  dan  penghayatan  atas  hubungan  yang  terjadi  antar  konsep  yang dikaji  secara  empiris.  Pendekatan  yang  dilakukan  untuk  mendeskripsikan  data  yang  diperoleh dalam  penelitian  dengan  pendekatan  psikoanalisis  Freud  yang  menjelaskan  kondisi  psikologi tokoh utama dengan meninjau aspek id, ego dan superego.Objek  penelitian  ini  adalah  aspek  psikoanalisis  tokoh-tokoh  dalam  Novel Negeri  5 Menara karya  A.  Fuadi.

2.      PEMBAHASAN
A.    Teori Mengenai ID, EGO, dan SUPEREGO
Sigmud Freud merupakan seorang psikolog dan filosof terkenal yang pernah mendapatkan penghargaan Goethe Prize. Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, merupakan seorang Austria keturunan Yahudi dan juga pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi.
Menurut Sigmund Freud, Id merupakan sumber segala energi psikis sehingga Id merupakan komponen utama dalam kepribadian. Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir, aspek kepribadiannya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Id didorong oleh prinsip kesenangan yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhan, apabila tidak terpenuhi maka akan timbul kecemasan dan ketegangan. Menurut Frued id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan dengan proses utama yang melibatkan proses dalam pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan. Sebagai contoh adalah ketika merasa lapar atau haus maka akan segera memenuhi kebutuhan tersebut dengan makan atau minum sampai id tersebut terpenuhi.
Yang kedua adalah Ego, merupakan komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego beroperasi menurut proses sekunder. Tujuan proses sekunder adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukannya suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Dengan kata lain fungsi ego adalah menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan.
Komponen yang terakhir adalah Superego[3], merupakan suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanam oleh adat-istiadat, agama, orangtua, dan lingkungan. Pada dasarnya Superego adalah hati nurani, jadi Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian, baik yang benar atau yang salah. Superrgo hadir dalam sadar, prasadar dam tidak sadar. Id, Ego dan Superego saling mempengaruhi satu sama lain, ego bersama dengan superego mengatur dan mengarahkan pemenuhan id dengan berdasarkan aturan-aturan yang benar dalam masyarakat, agama dan perilaku yang baik atau buruk.

Menurut Sigmund Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara Id, Ego dan Superego.

B.     Analisis Psikologis Aspek ID Dalam Tokoh-Tokoh Novel 5 Negeri Menara
1)      Setelah tamat SMP, Alif berniat melanjutkan pendidikannya ke SMA. Dia berpikir bahwa sekarang inilah waktunya untuk menjadi seperti orang pada umumnya; masuk jalur non agama, bukan belajar di madrasah seperti yang sudah tiga tahun ia jalani. Bahkan dia sudah berjanji dengan Randai, kawan dekatnya di Madrasah, untuk sama-sama mendaftar ke SMA. Beberapa hari setealah kelulusan, Amak/Ibunya mengajak duduk di langkan rumah, membicarakan mengenai sekolahnya, kemudian Alif pun mengatakan niatnya itu.
“Iya, Mak, besok Ambo mendaftar tes ke SMA. Insya Allah dengan doa Amak dan Ayah, bisa lulus...” (Fuadi, 2009: 6)
Dari sini, Alif sudah berusaha untuk mengejar keinginannya. Nalurinya lah yang mendorong untuk dia melanjutkan ke SMA, demi memenuhi kebanggaan yang ia andai-andaikan.

Bangku-bangku berdecit-decit karena penumpang terbahak-bahak sampai badan mereka bergoyang-goyang. (Fuadi: 2009, 18)
Pada kalimat di atas, menandakan adanya Id yang terdapat pada mereka (para penumpang bus), karna adanya tindakan sadar tidak sadar yang merupakan perilaku naluri.

Salah satu pintu kamar terbuka lebar dan di dalamnya beberapa anak muda tampak sibuk menyetem gitar listrik, semenara di sebelahnya seorang anak dengan mata terpejam menjiwai gesekan biolanya. (Fuadi: 2009, 34)
Tindakan yang ditunjukan merupakan perilaku naluri manusia ketika terlalu nikma atau menjiwainya ketika sedang melakukan sesuatu yang ia cintai.

Kami bertepuk tangan. Burhan membugkukkan badannya dan menjura kepada kami. (Fuadi: 2009, 35)
Tindakan Burhan merupakan Id karna ia melakukannya spontan atau seperti sudah tersetel dalam dirinya, karna kebiasaan, budaya dan pengetahuan.

Kami tersengat menikmatinya. Seperti sumbu kecil terpecik api, mulai terbakar, membesar dan terang! Setiap dia berteriak, kami menyalak balik dengan kata yang sama, man jadda wajada. (Fuadi: 2009, 41)
ini merupakan tindakan yang alamiah ketika manusia digebu adrenalin atau semangatnya, maka ia pun akan bersemangat.

Aku bergegas memilih dua baris dari depan ke arah belakang. Ini posisi aman menurutku. (Fuadi:2009, 42)
Di sini Alif melakukan atas dorongan nalurinya, berdasarkan keinginannya sendiri, yaitu memilih tempat yang menurutnya aman.

Ingin aku jabat tangan itu, tapi mobilnya terlalu cepat berlalu. Yang punya tangan adalah Presiden Soeharto yang datang meresmikan PLTA Maninau tahun 1983. (Fuadi: 2009, 43)
Alif ketika iru begitu ingin menjabat tangan Presiden Seoharto yang melewatinya mengendarai mobil, keinginan itu ada untuk memuaskan dirinya, yang mana merupakan alamiah, Id.



Raja Lubis yang duduk di meja paling depan maju dengan penuh percaya diri. (Fuadi: 2009, 44)
Nalurilah yang mendorongnya melakukan itu.

“Mulai hari ini aku akan baca kamus ini halaman per halaman.” Kata Raja sambil mengepalkan tangan. (Fuadi: 2009, 44)
Raja bertekad untuk membaca kamus tiap harinya atas keinginan dirinya sendiri, sebab memang tidak ada perintah, adi itu adalah Id.

Dia  mendeham tiga kali di depan mik. Tiba-tiba suara tawon tadi langsung diam dan senyap. (Fuadi: 2009, 48)
Tokoh utama, Alif, menggambarkan suara tawon sebagai suara bising dari kerumunan manusia. Dalam kasus ini, sama seperti Burhan yang membongkokkan badannya. Orang yang berdeham sampai tiga kali di mik pastinya mengartikan bahwa ia meminta perhatian, yang mana kita sebagai manusia mengerti dalam hal itu sehingga spontan semuanya berhenti bicara dan terpusat ke si pemegang mik, yaitu Kiai Rais.

kami mengangguk-angguk terkesan dengan perumpamaan ini. (Fuadi: 2009, 52)
Tindakan itu merupakan respon alami diri manusia ketika mengagumkan sesuatu, tercetus begitu saja, jadi merupakan Id.

Tepuk tangan yang panjang dan membahana membuat dadaku bergetar-getar. (Fuadi: 2009, 53)
Sama kasusnya seperti di atas.








C.    Analisis Psikologis Aspek Ego Dalam Tokoh-Tokoh Novel 5 Negeri Menara

Setelah lama berbantah-bantah, aku tahu diskusi ini tidak berujung. Pikiran kami jelas sangat bersebrangan. (Fuadi: 2009, 9)
Kekesalan karna cita-citaku ditentang ini berbenturan dengan rasa tidak tega melawan kehendak beliau. Kasih saying Amak tak terperikan kepadaku dan Adik-adik. (Fuadi: 2009, 10-11)
Setelah tahu bahwa keinginannya itu dibantah dengan Ibunya, ia mulai memikirkan dan menyaring ulang dorongan-dorongan untuk mewujudkan kemauannya itu. ia berpikir ulang dan realistis, maka hal ini termasuk dari ID.

Kenapa orang diajar untuk menjadi whistle blower, orang yang mencari kesalahan orang lain dan kemudian berpihak kepada pihak yang berwajib? Inikan bisa menadi fitnah. Apakah ini akhlakul kharimah yang diajarkan agama? hal ini aku tanyakan kepada Ustad Salman. (Fuadi: 2009, 78)
ketika itu Alif dan teman-temannya terlambat datang ke masjid, sehingga diberi hukuman menjadi jasus yang berarti mata-mata. Tetapi Alif tidak yakin bahwa hukuman semacam itu diperbolehkan dalam islam.



D.    Analisis Psikologis Aspek ID Dalam Tokoh-Tokoh Novel 5 Negeri Menara Super Ego

“Amak ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pemimpin agama yang hebat dengan pegetahuan yang luas. Seperti Buya Hamka yang sekampung dengan kita itu. melakukan Amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.” Kata Amak pelan-pelan. (Fuadi:2009, 8)
Menurutnya melanjutkan ke madrasah adalah pilihan yang terbaik, hal ini dipertimbangkan atas dasar agama. Jadi ini termasuk ke dalam super ego.




“Amak, kalau memang harus sekolahb agama, ambo ingin masuk pondok saja di Jawa. Tidak mau di Bukit Tinggi atau Padang.” Kataku di mulut pintu. (Fuadi: 2009, 12)
Setelah melewati proses ego, akhirnya Alif mengambil keputusannya. Ia menyetujui untuk melanjutkan belajar Agama, sebuah titik yang sudah sangat ia pertimbangkan.

Ya, aku tidak boleh bergantung kepada belas kasihan orang lain. (Fuadi: 2009, 82)
Ketika Alif belum memenuhi tugasnya menjadi Jasus, ia ditawarkan bantuan oleh teman-temannya. Tetapi ia berpikir bahwa itu adalah tanggung jawab dia, bahwa tidak adil kalau teman-temannya yang menanggung hukuman pribadinya. Semua itu ia pikirkan berdasarkan nasihat dari Kiai Rais, “mandirilah maka kamu akan menjadi orang merdeka. Jadilah ia memutuskan untuk menolak bantuan teman-temannya.

3.      PENUTUP
Negeri 5 Menara adalah novel karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2009. Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda, menuntut ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo, Jawa Timur, yang jauh dari rumah dan berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Mereka adalah Alif Fikri Chaniago dari Maninjau, Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, Baso Salahuddin dari Gowa.
Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk di bawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.[4]

Dalam karya ilmiah ini, analisis novel 5 Negeri Cemara dilakukan melalui pendekatan Psikologis teori Sigmund Freud, yang mengemukakan bahwa psikologi atau kejiwaan seseorang dipengaruhi oleh tiga strukrtuk, yaitu id, ego, dan superego.




























DAFTAR PUSTAKA




[1]        A. Fuadi. 5 Negeri Menara. (Gramedia Pustaka Utama. 2009). Hal: 0
[2]       http://ojs.rc-institut.id/index.php/education/article/view/279
[3]       https://www.kompasiana.com/ghusyarahimapramudhitan/552fa1546ea834a8048b4586/id-ego-superego-psikoanalisis-kepribadian-sigmund-freud

Komentar