![]() |
| Inspiliterasi/samandahakim |
Judul : Negeri 5 Menara
Pengarang : Ahmad Fuadi
Penerbit Utama :
PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : Xii + 423 halaman
Kategori : Novel/Fiksi
Harga : Rp. 98.000,00
Dilahirkannya
novel Negeri 5 Menara yakni untuk memberikan inspirasi dan motivasi, serta
berbagi pandangan hidup. Novel ini terispirasi dari pengalaman penulis, yaitu
Ahmad Fuadi, yang telah melalui pendidikan di Pondok Modern Gontor. Semua tokoh
utama terinspirasi dari sosok asli, beberapa lagi adalah gabungan dari beberapa
karakter yang sebenaranya. Ahmad Fuadi sendiri ditokohkan sebagai Alif, tokoh
utama dalam novel ini. Alif adalah pemuda seusia tamatan SMP yang berniat
melanjutkan pendidikannya ke SMA, namun ia terpaksa harus masuk ke podok karna
permintaan dari sang Ibu. Awalnya memang adalah keterpaksaan, namun pada
akhirnya menjadi kesyukuran. Alif sempat berpikir, bahwa setelah lulus dari
pondok, ia semata-mata hanya akan menjadi guru ngaji atau tokoh agama di
kampungnya. Ia jalani hidupnya di pondok dengan setengah hati. Sampai pada
akhirnya ia menemukan lima menara bersama teman-temannya, dan di sana lah Alif
mulai menghidupkan mimpinya kembali.
Setelah
lulus dari Pondok Madani, ia memiliki kehidupan seperti yang diimpi-impikannya,
buah dari kesabaran dan keihlasan yang ia jalani. Ada sebuah kutipan dari
bahasa Arab yang berkali-kali muncul dalam novel ini dari awal hingga akhir
cerita, yaitu Man jadda wajada, yang
memiliki arti, “Siapa yang bersugguh-sungguh, akan berhasil.”. Man jadda wajada
dalam novel ini diadikan sebagai pandangan hidup. Awalnya pertama kali
dilontarkan oleh ustad Salman, salah satu guru di Pondok Madani. Berikut adalah
beberapa kutipannya;
”Man jadda wajada!” teriak laki-laki muda
bertubuh kurus itu lantang. Telunjuknya lurus teracung tinggi ke udara,
suaranya menggelegar sorot matanya berkilat-kilat menikam kami satu persatu.”
(Fuadi: 2009, 40)
Man jadda wajada; sepotong kata asing ini bak mantera aaib yang
mampu bekerja. Dalam hitungan beberapa helaan napas saja, kami bagai tersengat
ribuan tawon. Kami tiga puluh anak tanggung, menjerit balik, tidak mau kalah
kencang. “Man jadda wajada!” (Fuadi:
2009, 40)
Kami
tersengat menikmatinya. Seperti sumbu kecil terpecik api, mulai terbakar,
membesar dan terang! Setiap dia berteriak, kami menyalak balik dengan kata yang
sama, man jadda wajada. (Fuadi: 2009,
41)
“Man jadda wajada.” Teriakku pada diri sendiri.
Sepotong syair Arab yang diajarkan hari pertama masuk kelas membakar tekadku.
(Fuadi: 2009, 82)
Rumus Man jadda wajada terbukti mujarab.
Kesungguhanku segera dibalas kontan. (Fuadi: 2009, 82)
Untuk
menyemarakkan suasaa, kami menempelkan spanduk berbagai kata motivasional di
dinding aula. Misalnya “man thalabal ula shiral layali”, “buku yang tebal
dimulai dari huruf pertama halaman pertama”, dan tentu saja “Man jadda wajada.” (Fuadi: 2009, 380)
Kemudian
kutipan yang terakhir ada pada bagian akhir dalam novel ini; Man
jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil…. (Fuadi: 2009,
405)
Kata-kata
Arab tersebut berkali-kali dimunculkan dalam 5 negeri Cemara, seolah menekankan
bahwa penulis ingin berbagi pandangan hidupnya lewat novel ini. Kata-kata
mutiara itu diajarkan sewaktu ia di Gontor, memang kata-katanya sederhana,
namun memiliki makna yang kuat sehingga dijadikan kompas kehidupan olehnya.
Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Hal
tersebut benar-benar terjadi pada Alif. Ia selalu bersungguh-sungguh dalam doa
maupun usaha, sehingga membuahkan hasil yang baik dalam kehidupannya. Ia telah
menjadi seseorang yang berhasil, dan berada di tempat yang diimpi-impikannya.
Semuanya berawal dari keterpaksaan dan
keraguan, menjalaninya dengan setengah hati sebab bukan berada di jalur yang
diinginkan. Namun ketika ia sabar, ikhlas dan mulai bersugguh-sungguh demi
kedua orangtuanya, justru Allah memberikan hasil buah yang indah baginya.
Kelebihan
dalam 5 Negeri Menara yaitu dapat mematahkan stigma yang salah (serta menambah
wawasan) dan meluruskannya terkait pandangan masyarakat terhadap pondok
pesantren. A. Fuadi berhasil menggambarkan seluk beluk pesantren modern yang
selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Ahmad Fuadi juga berhasil
dalam berbagi pandangan hidupnya lewat 5 Negeri Menara, yaitu Man jadda wajada yang ia jadikan sebagai
kompas dalam hidupnya.
Kekurangan
dari novel ini adalah klimaks ceritanya yang kurang menonjol. Ada rasa
ketidakpuasan setelah membaca selesai cerita ini.
Kesimpulan
dalam cerita ini, jangan pernah
meremehkan impian walau setinggi apapun, sebab Man jadda wajada; siapa yang bersungguh-sugguh akan berhasil. Tuhan
sugguh Maha Mendengar.

Komentar
Posting Komentar