Analisis Drama Musikal "Tutut Ingin Kaya."

Kemdikbud Budaya


Pada 26 November 2019 yang lalu, ITC (Institut Teater Cinangka) bersama Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman mementaskan drama musical yang berjudul "Tutut Ingin Kaya". Pementasan seni teater ini, tak lain tentu saja bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang betapa pentingnya melestarikan cagar budaya. Dan tentunya, pesan itu tersampaikan dengan apik di atas panggung yang didirikan di Taman Ismail Marzuki (TIM) tersebut.

Tutut Ingin Kaya mengisahkan tentang seorang gadis bermama Tutut Suhartini, yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini. Tutut tinggal di desa Sukasari tanpa kedua orang tuanya, sebab keduanya telah meninggal karna kecelakaan. Setelah ditinggal oleh orang-orang yang ja sayangi, Tutut berjanji akan membuat hidupnya lebih baik lagi. la selalu mengingat pesan dari almarhum Ayahnya yang sebenarnya salah ia artikan, sehingga dia terobsesi dan menghalalkan segala cara agar menjadi orang kaya. Drama musical ini diawali oleh lantunan lagu yang berjudul "Hanya Cinta". Berikut adalah beberapa untaian dalam liriknya yang menurut saya sangat akseptabel sebagai sambutan untuk mengawali kisah ini. "Hidup penuh dengan dengki. Hidup akan semakin sunyi. Hanya cinta yang bisa bersihkan hidup yang sunyi. // Hanya cinta yang dapat bersihkan kesesatan." Menurut saya, dalam lagu pertamanya ini sudah 'menceritakan' akan seperti apa dan bagaimana kisah ini.

Setelah lagu selesai, berdirilah seorang lelaki berseragam yang berpidato mengenai cagar alam. la menghimbau bahwa, "Penemuan apapun di desa ini sangat berharga." Jadi siapapun, diharapkan untuk melapor apabila menemukan sesuatu yang patut dibudidayakan. Kemudian sin berganti, sekarang yang berdiri adalah seorang lelaki yang dapat diketahui bahwa ia merupakan dukun di desa tersebut. Bagian ini cukup menarik sebab adanya unsur mengejek lewat cercaannya; "Semua penduduk percaya sama mulut saya. Percaya sama doa- doa saya. Semua akan minta pendapatku atas segala masalah yang mereka hadapi. Termasuk calon-calon pemimpin yang kemarin, yang memperebutkan kursi bertaruh memperbaiki nasibnya. Hahahahaha. Akan selalu ada yang khilaf dari peradaban karna ketamakan, kerakusan serta kehausan akan hal-hal yang bersifat materi. Mereka telah menjadi budak. Mereka menjadi budak atas nafsunya sendiri. Mereka telah menjadi pajangan, patung, manekuin-manekuin dan boneka-boneka yang tidak memiliki ruh .." Cercaan dari si dukun tersebut begitu mengejek masyarakat kita yang secara nyata masih belum melek dan adanya kesadaran, bahwa jalan untuk mengatasi masalah dengan cara pergi ke dukun adalah pilihan yang salah. Di Indonesia, mendatangi dukun bukan hal yang tabu lagi. Sudah teriadi sejak lama. Dan seperti apa kata și dukun yang ada pada drama ini, mungkin sampai kapanpun akan selalu ada yang khilaf karna rasa haus akan suatu hal. Selama dukun itu masih ada, mungkin selama itu pula adanya tamu yang berdatangan.

Setelah kemunculan dukun, sin berpindah pada tokoh utama dalam drama ini yaitu Tutut. "Walaupun hari masih sangat pagi sekali, aku tetap harus keliatan cantik." Begitu tutumya. Ini memberitahukan kepada kita bahwa Tutut adalah gadis cantik yang sangat memperhatikan akan penampilannya. Sedangkan inti kisah ini adalah bagaimana dia yang terobsesi menjadi kaya. Jadi menurut saya kurang  tepat, mengapa perkenalan pertama pada tokoh utama ini tidak langsung pada pointnya saja? Ataukah karena ini akar dari obsesinya menjadi kaya, agar menunjang penampilannya? Kalau memang benar begitu, ada yang lebih konkrit, yaitu pesan dari almarhum sang Ayah. Sin berganti, menunjukkan tukang sayur keliling yang menggunakan gerobak dan berbincang- bincang dengan seorang pengamen. Setelah kepergian pengamen, tukang sayur mengatakan, "Anak muda, ampun deh, terlalu semangat. Menggelora penuh rasa idealisme, tapi saat jadi pejabat idealismenya hilang." Lagi-lagi sindiran untuk kita, khususnya para pejabat yang menyalahgunakan kewewenangannya tanpa mengingat kaidah apapun, apalagi idealisme dalam diri yang dulu pernah ditanam, mungkin sudah melebur.

Kemudian tukang sayur tersebut dihampiri oleh tiga pelanggannya, yang salah satunya adalah Tutut. Tutut belanja dengan penampilan yang mewah, sehingga menjadi cibiran kedua tetangganya yang juga sedang berbelanja tersebut. "Dandanan kaya artis makan ikan asin, emang ngga malu apa kamu?" Begitulah sindiran dari salah satu tetangganya. Yang sebenamya sangat mencerminkan perilaku masyarakat kita, terutama perempuan, yang senang bergunjing dan selalu ingin mencampuri urusan orang lain. Diketahui juga bahwa Tutut memiliki banyak hutang kepada tukang sayur. Hal ini pun mencerminkan tingkah masyarakat kita, yang mati-matian mengejar gava hidup kelas atas walaupun sebenamya belum mampu untuk mencapai semua itu. Lalu, setelah adegan Ibu-ibu dan tukang sayur ini, panggung kembali diisi oleh si Dukun, kali ini diikuti oleh tiga pemuda yang bertamu kepadanya, tentunya untuk mengajukan keinginan. Pemuda pertama meminta agar ja bisa mendapatkan kembang desa. Yang kedua meminta agar dagangannya dibuat laris. Dan pemuda terakhir menginginkan dirinya menjadi lurah. Mungkin inilah permintaan- permintaan yang dominan ketika orang mendatangi dukun. Jodoh, harta dan jabatan. Tiga hal yang selalu orang-orang kejar dalam hidup. Ternyata, Mbah Dukun kedatangan tamu lagi. Seorang perempuan yang kita kenal sebagai Tutut. Dia membawa sesajen untuk diberikan kekayaan, Kemudian pulanglah si Tutut dan langsung menjalankan perintah dari dukunnya. la menggali dan menemukan sebuah archa yang bernilai dan akan menghasilkan banyak pundi rupiah apabila dijual.

Setelah itu, Tutut bertemu dengan para arkeolog di kampungnya yang sedang melakukan eskafasi (penggalian). Di sini dia sudah mendapatkan peringatan, bahwa benda cagar alam harus dilindungi dan dilestarikan. Tetapi ia mengabaikannya dan memilih untuk menyembunyikan archa temuannya itu. Kemudian Tutut bertemu dengan Azhari untuk meminta bantuan. Awalnya Azhari menolak, namun setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Azhari luluh dan memutuskan untuk membantu Tutut menjual archa tersebut. Rencana pun dilakukan, archa telah terjual. Meskipun ketika Tutut ingin pergi sempat bertemu lagi dengan para arkeolog, ia tetap mempermainkan kebohongannya. Tutut yang dipergoki sedang membawa-bawa sebuah koper itu mengaku ingin pergi untuk menikah. Padahal ia ingin menjual archa penemuannya. Para arkeolog meminta izin agar dapat membongkar rumah milik Tutut karna menurut peneliatian, ada peninggalan berharga di sekitar sana. Tutut pun megizikannya.

Penyelesaian cerita ini menurut saya terkesan buru-buru. Saya tidak menemukan konflik klimaksnya. Sin şelanjutnya adalah persidangan Tutut dan Azhari yang juga merupakan penutup drama musical ini. Mereka dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun, denda 10 milyar serta penyitaan harta benda. "Tidak apa hidup miskin asalkan aku bahagia." Itulah kata-kata terakhir dari Tutut, yang kemudian diikuti sorakan-sorakan lantang para warga yang cukup gaduh. Tamat. Secara keseluruhan, banyak bagian dari kisah ini yang sangat merefleksikan situasi sosial dalam masyarakat kita. Tentunya, untuk mengajak kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Lebih melek dan memiliki kesadaran, serta berpikiran sehat dalam setiap tindakan. ITC (Institut Teater Cinangka) bersama Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman berhasil menyampaikan moral dan pentingnya cagar budaya dengan cara yang unik dan apik. Terima kasih.

Komentar