#MovieReview Standar terbaru film horor Indonesia?
Writer : Nyayu Fajrina
![]() |
| Poster Pengabdi Setan 2 edited by InspiLiterasi, CC: Instagram.com / @pengabdisetan2film |
Layaknya sequel pada umumnya, Pengabdi Setan 2: Communion datang dengan dibayang-bayangi kesuksesan film pertamanya. Meraih jumlah penonton lebih dari 4 juta hingga detik ini, dapat dikatakan bahwa Pengabdi Setan 2 sama suksesnya dengan film pertamanya, malah boleh jadi akan lebih sukses dari film pertamanya mengingat film tersebut masih bertengger di bioskop-bioskop tanah air.
Tuntutan film sekuel, selain skala yang dihadirkan haruslah jauh lebih besar dari film pertamanya, tentulah diharapkan menghadirkan sesuatu yang baru baik dari segi naratif maupun sinematiknya. Joko Anwar berhasil menghadirkan ketiga hal tersebut dalam film Pengabdi Setan 2: Communion. Skala yang dihadirkan jauh lebih besar, cerita dan karakter yang disajikan juga jauh lebih kompleks, serta teknik pengambilan gambar, desain produksi yang apik.
Jika sebelumnya hanya menyoroti keluarga Suwono saja, di sekuel ini Joko Anwar menghadirkan kehidupan penghuni rusun yang menjadi tetangga keluarga Suwono. Bukan hanya fokus ingin menawarkan pengalaman horor yang mencengkam dan terasa nyata, Joko Anwar ingin lebih dari sekedar mengungkap lanjutan misteri-misteri yang belum terjawab di film pertamanya.
Banyak sekali pandangan-pandangan Joko yang dituangkan dalam film ini melalui karakter-karakter baru penghuni rusun. Pandangannya mengenai apakah anak dilahirkan ke dunia tujuannya hanya agar bisa memenuhi keinginan, atau hanya untuk mengurus dan membantu orang tuanya saja? Pandangan Joko tentang tujuan anak dilahirkan ke dunia bukan pertama kali dihadirkan dalam film ini. Film-film Joko sebelumnya juga pernah menghadirkan pandangan serupa seperti dalam filmnya yang berjudul Pintu Terlarang.
Melalui karakter yang diperankan oleh Ratu Felisha, Joko ingin mematahkan stigma masyarakat terhadap perempuan seksi yang bekerja di bilyard adalah perempuan binal. Joko ingin memberikan pandangan bahwa perempuan tidak boleh didefinisikan hanya berdasarkan pakaian dan pekerjaannya saja.
Khasnya Joko yang selalu tidak mengikuti template film horor pada umumnya, dapat dilihat melalui tokoh ustad yang kembali dihadirkan pada film kedua ini melalui karakter yang berbeda. Sejak film Pengabdi Setan pertama, Joko telah memperlihatkan bahwa tokoh ustad sejatinya juga sama seperti kita, adalah manusia biasa yang punya rasa sedih, kecewa, dan takut.
Pada sekuel ini, Joko kembali mematahkan stigma masyarakat yang menganggap bahwa tokoh religius adalah tokoh yang identik sebagai penyelamat dan mampu menyelesaikan permasalahan yang menyangkut hal-hal mistis atau gaib, yang acap kali juga masih dipakai sebagai template penyelesaian dalam film horor di tanah air saat ini.
Selain itu, Joko juga menghadirkan tentang perbedaan perspektif mengenai persoalan hidup dan mati. Ada karakter yang mempunyai pandangan bahwa persoalan hidup dan mati adalah tentang membantu menyelamatkan nyawa banyak orang, sementara karakter lain memberikan pandangan bahwa persoalan hidup dan mati juga menyangkut keluarga sendiri yang harus lebih didahulukan.
Pola-pola interaksi antara karakter yang dihadirkan juga terbilang baru. Meskipun bisa dibilang pola interaksi antar karakter tersebut mempunyai kemiripan dengan series Stranger Things Netflix, dimana beberapa karakter secara tidak sengaja dipisah dan tergabung dalam beberapa tim dengan misi yang berbeda. Joko secara bergantian menampilkan rentetan peristiwa yang dialami oleh masing-masing tim tersebut. Lalu di pertengahan, tiap misteri yang berhasil dipecahkan oleh masing-masing tim akan disatukan demi mencapai konklusi atas permasalahan utama cerita.
Meskipun tidak ada adegan yang ikonik seperti di film pertamanya, dan jumpscare yang terbilang repetitif, Pengabdi Setan 2 Communion mampu menawarkan pengalaman horor yang lebih mencekam, dan terasa nyata melalui adegan-adegan yang creepy, yang membuat kita harus menahan nafas ketika menyaksikannya. Ditambah dialog menghibur yang sesekali datang sebagai relaksasi ketika penonton sudah terlalu banyak ditakuti.
Permainan angle kamera dan penataan cahaya begitu menonjol dan boleh dibilang sebagai kekayaan utama di film ini. Joko Anwar dalam wawancaranya di channel youtube HAHAHA TV pernah menjelaskan kepada Ernest Prakasa, bahwa cahaya yang diambil selama pembuatan film tersebut dibuat sealami mungkin, artinya jika memang ketika proses pengambilan adegan sang aktor diceritakan menggunakan korek api sebagai sumber cahaya, maka sebisa mungkin penataan cahayanya pun hanya menggunakan korek api tersebut.
Menariknya, keputusan kreatif Joko dan tim dalam membuat penataan cahaya sealami mungkin, justru bukan melemahkan film tersebut, melainkan menambah perbedaan film ini dengan film lainnya. Kita pasti pernah merasa sebal bukan, ketika menonton film yang dalam adegan diceritakan rumahnya mati lampu, tapi justru pencahayaannya terbilang terang.
Pergerakan kamera yang membuat kita ikut merasakan panik dan frustasinya ketika dikejar-kejar, atau ketakutan ketika ada sosok dari jauh yang hadir dalam kegelapan ikut memeriahkan kesuksesan film ini dari segi teknis.
Rasanya, memang pantas jika film Pengabdi Setan 2: Communion ini dijadikan standar terbaru film horor Indonesia. Meski sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di Pengabdi Setan 1, di sekuelnya masih menyimpan rahasia besar dan misteri yang belum terjawab, tak heran jika banyak teori-teori bermunculan di medsos.
Pada akhirnya, film Pengabdi Setan 2:
Communion ini adalah salah satu film horor Indonesia terbaik tahun 2022 karena
mampu membuktikan bahwa film Horor Indonesia bukan hanya berisi penampakan,
jumpscare dan jejeritan saja, melainkan film Horor Indonesia juga mampu
menyuguhkan aspek naratif dan sinematik yang memukau.

Komentar
Posting Komentar