Opening :
Di balik dinding sempit pada sebuah loteng, ada seorang gadis remaja menuliskan dunia yang gak bisa lagi dia sentuh.
Substance :
Namanya Anne Frank. Umurnya masih 13 tahun waktu harus bersembunyi dari kejamnya dunia luar.
Selama dua tahun lebih, raganya terhenti di ruang kecil itu. Tapi pemikirannya luas. Dan lewat buku hariannya, dia tetep berani bermimpi, meski jendela dunianya cuma segaris cahaya.
Anne pernah nulis, "Aku bisa menghindari semua ini... hanya dengan punya ruang untuk menulis." Dari kalimat tersebut sebenarnya bukan hanya tentang menulis. Tapi tentang bertahan; tentang bagaimana punya ruang kecil untuk tetap merasa hidup, saat dunia perlahan mengambil segalanya.
Loteng itu mungkin kecil. Tapi dari sana, lahir suara yang sampai ke seluruh dunia. Sekarang, banyak dari kita udah punya 'ruang' yang jauh lebih bebas dan terbuka. Tapi kadang, kita lupa gimana cara menghargainya.
Selama dua tahun lebih, raganya terhenti di ruang kecil itu. Tapi pemikirannya luas. Dan lewat buku hariannya, dia tetep berani bermimpi, meski jendela dunianya cuma segaris cahaya.
Anne pernah nulis, "Aku bisa menghindari semua ini... hanya dengan punya ruang untuk menulis." Dari kalimat tersebut sebenarnya bukan hanya tentang menulis. Tapi tentang bertahan; tentang bagaimana punya ruang kecil untuk tetap merasa hidup, saat dunia perlahan mengambil segalanya.
Loteng itu mungkin kecil. Tapi dari sana, lahir suara yang sampai ke seluruh dunia. Sekarang, banyak dari kita udah punya 'ruang' yang jauh lebih bebas dan terbuka. Tapi kadang, kita lupa gimana cara menghargainya.
Closing :
Jadi, gue cuma mau nanya: Apakah kita udah cukup memakai ruang yang kita punya untuk sesuatu yang berarti? Atau jangan-jangan… justru kita yang malah ikut menyempitkan, bahkan merampas 'ruang' hidup orang lain?
Komentar
Posting Komentar