Ep.03 - Animal Farm

Katanya sih, suara rakyat itu penting. Tapi kok makin ke sini, suara rakyat cuma laku tiap lima tahun sekali yaa? Sisanya? Ya cuma jadi penonton pas aturan tiba-tiba berubah demi satu keluarga. Ehheheh *senyum pahit ;)

Tahun 1945, George Orwell nulis Animal Farm. Banyak yang bilang ini soal Rusia, tapi kalau lo baca hari ini di Indonesia, rasanya kok kayak lagi baca berita kemarin sore? Hmm ..

Di buku ini, ada babi bernama Squealer. Tugasnya cuma satu: jadi juru bicara yang pinter banget muter-balikin fakta. Kalau ada kebijakan yang nyusahin hewan lain, dia bakal bilang, "Ini demi stabilitas," atau "Dulu zaman manusia lebih parah, lho!"
Mirip nggak sama kondisi kita sekarang? Di mana setiap ada kebijakan kontroversial atau perubahan aturan hukum yang mendadak, selalu ada narasi yang gak masuk akal kalau kita protes.
Yang paling ngeri adalah karakter Napoleon. Dia nggak cuma berkuasa, tapi dia pelan-pelan naruh keluarganya dan antek-anteknya di posisi kunci. Di Animal Farm, anjing-anjing penjaga dilatih sejak kecil buat setia cuma sama dia, bukan sama aturan peternakan.
Orwell lagi ngingetin kita: Kekuasaan itu candu. Sekali lo ngerasain duduk di kursi nyaman, lo bakal ngelakuin apa aja buat tetep di sana, termasuk ngubah "konstitusi" peternakan yang tadinya bilang "Semua hewan setara" jadi ada embel-embel "Tapi ada yang lebih setara".
Animal Farm adalah pengingat bahwa musuh demokrasi bukan cuma kediktatoran terang-terangan, tapi juga rasa malas kita buat kritis.
Kalau kita cuma manggut-manggut liat gimik politik dan narasi yang dipoles, kita nggak beda jauh sama Boxer, si kuda pekerja keras yang setia sampai akhir, tapi akhirnya dikhianati dan dijual sama pemimpinnya sendiri demi sebotol wiski.

Kalau lo sendiri, seandainya lo adalah salah satu penduduk di sana, lo mau tetep jadi penonton yang diam, atau mulai berani nanya: "Ini buat kepentingan rakyat, atau cuma buat kelanggengan keluarga babi?"

Komentar