![]() |
| Kartu pos / @samandakim._ |
Gara-Gara Satu Video, Gue Checkout 9 Postcard
Semua ini dimulai dari satu video YouTube shorts.
Di situ, Raditya Dika bilang dia bakal nerima kartu pos dari subscriber dengan tema “Cerita Kita.”
Konsepnya simpel. Tulis cerita versi lo; apa yang sedang lo lakukan, rasakan, atau apapun itu.
Tapi kali ini nggak.
Beberapa detik setelah videonya selesai, gue udah buka marketplace. Gue search: kartu pos Indonesia, postcard aesthetic, postcard vintage, kartu pos retro.
Muncul banyak pilihan.
Ada yang gambarnya pemandangan alam, berbagai bangunan ikonik setiap kota, makanan khas daerah, ilustrasi jadul, sampai yang vibes-nya kayak kartu pos Eropa tahun 90-an.
Awalnya gue masukin satu ke keranjang. Terus mikir, “Sekalian aja deh.".
Dan akhirnya, ada sembilan kartu pos yang gue check out.
Iyaa, sembilan.
Padahal yang mau dikirim ke Bang Radit cuma satu 🙂
Nah, Kenapa Postcard?
Karena postcard itu tanggung.
Lho?
Iya, dia tuh nggak sepanjang surat, juga nggak bisa seinstan chat.
Lo nggak bisa nulis kepanjangan.
Lo harus milih cerita yang cukup penting buat muat di ruang sekecil itu. Dan menurut gue, itu menarik.
Di zaman sekarang, kita kebanyakan ruang buat ngomong. Story, caption, thread panjang, voice note nggak selesai-selesai. Sementara postcard memaksa lo buat ringkas. Jujur. Nggak muter-muter.
Yaah, walaupun postcard ini sudah terbilang kuno, dan udah banyak pengganti yang sama fungsinya namun lebih efisien. But anyway, kayaknya gue emang suka ‘beginian’. Hal-hal yang berbau tulis-menulis. Barang yang ada sentuhan klasiknya. Sesuatu yang bisa dipegang, bukan cuma diswipe.
Dan gue senang karena pada akhirnya, gue bisa nemuin 'alasan' untuk membeli benda-benda cantik itu.
Terus Delapan Sisanya?
Jujur, gue belum tau. Awalnya gue pikir, yaudalah, cuma impulsif. Tapi makin dipikirin, delapan kartu kosong itu kayak cadangan ide.
Mungkin gue akan kirim ke calon jodoh gue yang entah lagi nyasar di benua mana.
Mungkin gue tulis buat diri sendiri.
Mungkin gue simpan aja, nunggu momen yang pas.
Atau mungkin nanti ada video lain yang bikin gue checkout sesuatu lagi. Ahahahha.
Jadi intinya ...
Intinya dari kisah ini, gue bukan cuma sekedar fomo. Ini bukan cuma soal postcard ataupun Raditya Dika. Kayaknya memang ada bagian diri gue yang lagi kangen nulis. Kangen duduk agak lama, dan mikir agak dalam.
Kangen sesuatu yang nggak instan; yang gak bisa diedit sekian waktu tertentu setelah diposting. Yang sekali ditulis, yaaa.. yaudah.
Dan gue kangen rasanya merasakan ‘keberhargaan’ itu sendiri.
Beneran deh. Ini emang agak ‘deep’ buat gue pribadi. Percaya gak? Gue sempat ada di fase ngerasa gak cocok hidup dan berkehidupan di zaman ini. Sempat frustasi juga ;”)
Entahlah, gaes.
Mungkin ini cuma cara semesta buat mengatakan ‘sesuatu’.
📝♥️

Komentar
Posting Komentar