Ruang Tunggu - Cerpen

Unsplash / @udituc15

Aroma antiseptik dan suara detak jam dinding di Ruang Tunggu ini, terasa seperti duri yang masuk perlahan ke kulit Lyona. Di usianya yang baru saja menginjak dewasa, saat teman-temannya sibuk memikirkan gaun pernikahan atau jenjang karier, Lyona justru terjebak dalam sebuah labirin masa lalu. Di balik pintu kayu pucat itu, seorang lelaki yang ia panggil 'Ayah' sedang terbaring sekarat.

Lyona menatap ujung sepatunya. Seumur hidup, ia merasa seperti buku yang kehilangan bab pertamanya. Ia dipaksa menjadi dewasa sebelum merasa cukup dengan perannya menjadi ‘anak’. Ibunya adalah pejuang yang sibuk, dan Ayahnya? Ayahnya adalah sebuah absensi panjang yang memiliki kehidupan lain di luar sana.

Seorang perawat memanggil namanya. Lyona berdiri, kakinya berat. Ia berjalan sampai ke depan pintu ruangan itu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu yang dingin, tapi dadanya mendadak sesak. Aku belum siap memaafkan, tapi aku juga lelah membenci, batinnya. Ia memutar badan, lalu pulang.

Hari kedua, skenario itu terulang. Ia datang, duduk di kursi plastik yang sama, menatap pintu yang sama, dan kembali pulang tanpa pertemuan. Ruang tunggu itu seolah menjadi batas suci antara kenyataan yang pahit dan ego yang terluka.

Hari ketiga, sesuatu yang berbeda menggerakkan jemarinya. Dengan satu tarikan napas panjang, akhirnya Lyona memutar gagang pintu itu.

Cklek.

Cahaya putih menyilaukan mata Lyona. Namun, saat matanya kembali fokus, ia tidak mencium bau obat. Ia justru mencium aroma kayu manis dan parfum lama ibunya. Lyona tertegun. Ia berdiri di tengah ruang tamu rumah kecilnya dua puluh tahun lalu.

“Lyona, sini Sayang. Ayah mau berangkat kerja,” sebuah suara berat yang hangat memanggilnya.
Di sana, di atas sofa usang yang sudah lama dibuang, duduk seorang lelaki muda dengan wajah segar; Ayahnya. Lyona melihat dirinya sendiri; anak perempuan bertubuh mungil sekitar usia 5 tahun. Lyona ingat, itu adalah masa-masa dimana Ayahnya sudah jarang pulang ke rumah.

Di antara tumpukan barang di dekat sofa, Lyona melihat pulpen hitam murah tergeletak. Benda itu adalah hadiah ulang tahun pemberian dari Lyona untuk Ayahnya.
Sang Ayah mengambil pulpen itu, menyimpannya di saku kemeja. Kemudian, dari saku jaketnya, ia mengeluarkan secarik kertas kecil dan meletakkannya di atas meja.

Pandangan Lyona mengabur oleh air mata. Tiba-tiba, udara dingin rumah sakit kembali menusuk kulitnya. Ia sudah berada di dalam kamar rawat. Di depannya, seorang lelaki tua yang kurus kering terbaring lemah dengan kabel-kabel yang menjalar di tubuhnya. Lelaki itu sudah tidak sadarkan diri. Tapi, mata Lyona tertuju pada sesuatu yang menyembul dari balik lipatan selimut di samping tangan sang Ayah.

Sebuah pulpen hitam murah yang tintanya mungkin sudah kering dimakan usia. Benda itu ada di sana, dijaga seolah itu adalah harta paling berharga selama puluhan tahun perpisahan mereka.
Dengan tangan gemetar, Lyona merogoh saku blazer tuanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat jemarinya menyentuh tekstur kertas kasar. Ia menariknya keluar. Secarik kertas kusam bertuliskan tulisan tangan yang terburu-buru:

“Maafkan Ayah yang gagal tumbuh bersamamu. Ternyata, yang paling menyakitkan adalah menunggu waktu untuk bisa pantas disebut orang tua. Tapi tidak pernah bisa.”

Lyona luruh di samping ranjang itu. Ia menyadari satu hal yang selama ini luput dari pikirannya: Bukan hanya dia yang menderita karena kehilangan sosok orang tua. Ayahnya pun menjalani hidup dengan penderitaan yang sama; meratapi perannya yang gagal, terjebak dalam rasa bersalah yang tak berujung.


Komentar