Opening :
Semua orang tahu membunuh itu salah.
Tapi… gimana kalau di kepala lo, itu terasa masuk akal?
Substance :
Tokohnya, Raskolnikov.
Seorang mahasiswa miskin yang hidupnya berantakan.
Dan di satu titik, dia punya ide:
Bahwa ada manusia “biasa”…
dan ada manusia “luar biasa”.
Yang biasa harus ikut aturan.
Tapi yang luar biasa?
Boleh melanggar… kalau tujuannya lebih besar.
Dan dari situ, dia ngebangun satu pembenaran:
kalau dia membunuh satu orang yang “gak berguna”,
dan uangnya dipakai buat hal baik…
bukannya itu jadi… benar?
Kedengarannya logis.
Bahkan… mulia.
Dan itu yang bikin serem.
Karena kejahatan jarang datang dengan wajah “jahat”.
Seringnya, dia datang dengan alasan yang rapi.
Raskolnikov akhirnya beneran melakukan itu.
Tapi setelahnya… gak ada rasa menang.
Yang ada justru berantakan.
Bukan karena polisi.
Bukan karena ancaman hukuman.
Tapi karena pikirannya sendiri mulai runtuh.
Dia mulai sadar:
masalahnya bukan di teorinya.
Tapi di kenyataan bahwa dia tetap manusia.
Dan manusia… gak sesederhana logika.
Rasa bersalah itu muncul,
bukan karena dia ketahuan,
tapi karena ada bagian dari dirinya
yang gak bisa dia bohongin.
Closing :
Kita sering mikir kalau batas antara benar dan salah itu jelas.
Padahal, yang lebih sering terjadi…
kita geser batas itu pelan-pelan,
sampai akhirnya kita sendiri lupa
kapan kita mulai melewatinya.
Dan kalau suatu saat lo bisa membenarkan segalanya di kepala lo…
itu berarti lo udah benar?
Atau justru… itu tanda lo mulai bahaya?
Komentar
Posting Komentar