Via’s Journal - Lalu apa ?

Gue gak pernah ada di fase ini sebelumnya.
Biasanya, dan senormalnya sebagaimana manusia, gue akan bahagia ketika berandai-andai kalau mimpi-mimpi gue yang indah itu akan tercapai. Tapi sekarang, entah kenapa pikiran gue berhenti di satu titik pertanyaan yang ganjil;
“Kalau semua itu sudah tercapai, lalu apa?”
Sepanjang hidup, selalu ada sesuatu yang dikejar. Sesuatu yang harus diselesaikan. Sesuatu yang bikin gue bangun pagi dengan alasan yang konkret. Entah itu mimpi, tanggung jawab, atau sekedar keinginan untuk jadi versi diri yang lebih baik.

Tapi sekarang, gue mulai ngebayangin, gimana kalau semua ini udah selesai? Semua mimpi yang selama ini gue kejar, target yang gue susun, kewajiban yang gue pikul, dan semua hajat serta kewajiban udah lunas. Gak ada lagi yang perlu dikejar. Gak ada lagi tekanan. Dan gak ada lagi planing “nanti gue harus begini dan begitu.”

Aneh, yah. Harusnya itu jadi skenario paling ideal. Tapi bukannya ngerasa lega, gue malah ngerasa kosong. Seolah berhasil berdiri di puncak yang ternyata, sepi. Gak ada apa-apa selain diri gue sendiri dan ruang yang terlalu luas untuk dijelasin dan penuh tanda tanya.

Gue mulai sadar, mungkin selama ini gue terlalu bergantung sama “proses mengejar”. Seolah-olah makna hidup itu selalu ada di depan, di sesuatu yang belum gue capai itu.
Tapi kalau semua “next step” itu udah terlewati, gue jadi bingung (?)

Dalam psikologi sendiri, ada yang namanya konsep tentang kekosongan eksistensial, dimana perasaan hampa yang muncul bukan karena kekurangan, tapi justru karena kehilangan arah makna. Viktor Frankl pernah bilang kalau manusia itu butuh makna, bukan sekedar pencapaian atau kenyamanan. Dan mungkin ini yang lagi gue rasain sekarang. Bukan capek ngejar, tapi bingung setelah membayangkan garis akhirnya.

Jadi, ya.. mungkin ini cuma sebuah fase. Dan dari sini, gue jadi ngerti betapa sebuah proses itu sangat berharga. Karena mungkin, justru di perjalanan menuju ke ‘sesuatu’ itu gue akan menemukan banyak hal dan alasan. Dan juga menjawab semua pertanyaan yang terlintas saat ini.

Hari ini gue masih di tengah-tengahnya. Masih berusaha jalanin yang terbaik. Meskipun jujur, kadang ngerasa kosong di beberapa momen. Tapi gue ngerasa, kesadaran gue semakin ‘bangun’.

Banayk yang berubah dari diri gue. Beberapa halnya adalah; gue yang sekarang jadi lebih paham boundaries dan bagaimana harus respect bukan hanya ke orang lain, tapi juga ke diri sendiri. Bahkan, gue ngerasa gak sefrekuensi lagi sama orang-orang yang dulu sempat gue anggap ‘dekat’. 

Entahlah. Rasanya kok, jadi lebih peka. Lebih mudah melihat pola tingkah laku manusia, terutama yang berulang. Dari situ, gue belajar untuk menempatkan diri; tau mana yang perlu didekatkan, dan mana yang cukup dijaga jaraknya.

Gue gak menyalahkan. Tapi gue sadar, gue gak nyaman kalau terlalu dekat dengan orang-orang yang pola pikirnya, atau cara mereka memperlakukan orang lain, udah gak lagi sejalan atau bahkan terasa berseberangan.

Jadi, begitulah hidup akhir-akhir ini.

Mungkin gue lagi naik ke cara pandang yang baru. Cara pandang yang gak lagi cuma bergantung sama target, pencapaian, atau validasi dari luar. Dan perlahan, gue mulai nerima kalau berubah itu wajar. Kalau frekuensi dengan orang bisa bergeser. Kalau kehilangan rasa “connected” itu bukan berarti ada yang perlu disalahkan, tapi karena gue lagi tumbuh ke arah yang berbeda aja. Gue cukup menghargai perjalanan belajar setiap manusia.

Yang jelas, gue mau hidup dengan cara yang lebih jujur. Lebih sadar. Lebih selaras sama diri gue sendiri.
Mungkin nanti, gue akan nemuin makna yang gak lagi bergantung sama apa yang gue capai.. tapi dari siapa gue saat menjalaninya.

Gue percaya, hidup gue tetap bergerak dan berkembang. Bahkan sekalipun ada saat-saat dimana gue sedang terlihat diam.
Dan untuk ke depannya …
Gue akan tetap memilih untuk selalu berjalan dengan keyakinan..

Bahwa apa pun yang gue cari, pelan-pelan juga akan menemukan gue.

Amin, Ya Allah-ku …

📝✨


Komentar