![]() |
| Buku "Kosmos" - Carl Sagan / @samandahakim |
Ada masa ketika ketertarikan saya pada keindahan astronomi dan misteri di baliknya, membawa saya membuka lembar demi lembar buku Kosmos karya Carl Sagan. Itu terjadi pada tahun 2018, dan sejak saat itu semesta seolah membuka pintunya, memperlihatkan betapa luar biasanya alam raya yang selama ini menaungi kita.
Di tengah semua rasa kagum itu, suatu malam muncul sebuah pertanyaan sederhana di kepala saya.
"Apakah ada cahaya bintang yang baru tiba di mata kita malam ini, padahal ia memulai perjalanannya ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup?"
Pertanyaan yang agak random memang. Tapi ketika dibedah dengan sains, ada jawaban ilmiah yang menakjubkan.
Dan jawabannya adalah, yappss, sangat mungkin.
Bagi kita, rentang waktu 1.400 tahun sejak masa kenabian terasa sangat panjang. Apalagi jika dibandingkan dengan ribuan tahun sejarah peradaban manusia. Namun bagi bintang-bintang di langit, seribu atau dua ribu tahun cuma sekedipan mata. Umur mereka mencapai jutaan hingga miliaran tahun.
Karena itu, ketika kita memandang konstelasi Orion atau melihat Sirius bersinar di langit malam, kita sedang menyaksikan langit yang hampir sama dengan yang pernah dilihat oleh manusia berabad-abad lalu. Kita dipisahkan oleh waktu, tetapi tetap terhubung oleh langit yang sama.
Yang lebih menarik, saat menatap bintang kita sebenarnya gak pernah melihat mereka secara real-time.
Cahaya butuh waktu untuk menempuh perjalanan melintasi ruang angkasa. Jarak bintang bahkan diukur menggunakan satuan "tahun cahaya", yaitu jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun. Dengan kata lain, setiap kali kita menengadah ke langit, kita sedang melihat berbagai lapisan masa lalu yang bertumpuk di atas kepala kita.
Ketika mata ini menangkap cahaya Bintang Vega, misalnya, sebenarnya kita sedang melihat kondisi Vega sekitar 25 tahun yang lalu. Cahaya yang tiba malam ini memulai perjalanannya ketika sebagian dari kita mungkin masih sibuk bermain di masa kecil, atau bahkan banyak dari kalian yang belum lahir.
Ketika pandangan bergeser ke Polaris, Sang Bintang Utara, cahaya yang kita lihat telah melakukan perjalanan selama ratusan tahun sebelum akhirnya tiba di mata kita malam ini.
Dan sangat mungkin, apabila tepat pada malam ini, ada seberkas cahaya dari sebuah bintang yang berjarak sekitar 1.400 tahun cahaya yang baru aja mendarat di retina kita. Cahaya yang memulai perjalanannya ketika Nabi Muhammad SAW masih berjalan di bumi, baru tiba di mata kita pada detik ini.
Bagaimana cara semesta ini bekerja benar-benar di luar nalar yah ? :)
Di langit malam, masa lalu dan masa kini seolah bercampur menjadi satu.
Sains mengajarkan bahwa beberapa bintang yang tampak begitu indah malam ini mungkin sudah mengalami perubahan besar di tempat asalnya. Bahkan, sebagian mungkin telah berakhir dalam ledakan dahsyat ratusan tahun lalu. Hanya saja, kita belum mengetahuinya.
Kabar kematian mereka masih berada di tengah perjalanan menuju Bumi, dibawa oleh cahaya yang membutuhkan waktu sangat lama untuk menyeberangi ruang angkasa.
Saya suka membayangkan cahaya sebagai surat kabar alam semesta.
Setiap malam, langit mengantarkan berita-berita lama yang baru tiba hari ini. Ketika sebuah bintang lahir, berubah, atau bahkan mati, informasi tentang peristiwa itu gak langsung sampai kepada kita. Semuanya harus menempuh perjalanan yang panjang terlebih dahulu.
Karena itu, saat kita menatap langit malam, kita gak cuma sedang melihat ruang. Kita sedang membaca sejarah.
Sebaliknya, bisa jadi ada peristiwa-peristiwa luar biasa yang sedang terjadi saat ini di sudut lain alam semesta. Mungkin sebuah bintang baru aja meledak. Mungkin sebuah sistem planet baru aja terbentuk. Tapi berita tentang semua itu masih dalam perjalanan menuju kita, dan mungkin baru akan tiba ratusan atau ribuan tahun lagi.
Semakin lama merenungkan hal ini, semakin saya merasa betapa kecilnya diri kita.
Kita hanyalah manusia dengan usia yang, jika beruntung, mungkin mencapai puluhan atau seratus tahun. Kita hidup di sebuah planet kecil yang mengorbit bintang biasa di salah satu lengan Galaksi Bima Sakti. Dibandingkan dengan luasnya ruang dan panjangnya waktu alam semesta, keberadaan kita nyaris tak terlihat.
Namun anehnya, kesadaran akan kecilnya diri ini justru menghadirkan rasa syukur yang dalam.
Kita memang kecil, tetapi kita diberi kemampuan untuk memandang, mengagumi, dan mencoba memahami kemegahan kosmis yang begitu luar biasa. Di tengah luasnya ruang dan panjangnya waktu, kita tetap diberi kesempatan untuk menjadi saksi.
Kita sering banget dengar motivator yang sangat anti dengan masa lalu. Tapi semesta sendiri, leawat langit malamnya seolah menyampaikan pesan kalau kita sebenarnya gak pernah benar-benar terputus dari masa lalu. Kita adalah pengamat yang berdiri di waktu ini, menjembatani sejarah yang telah berlalu dan masa depan yang sedang bergerak mendekat dalam bentuk cahaya.
Setiap kali wajah ini mendongak ke atas, saya gak akan lagi melihat langit sebagai ruang kosong yang sunyi. Saya akan melihatnya sebagai sebuah mesin waktu raksasa yang menghubungkan kita dengan masa lalu sekaligus memperlihatkan betapa luasnya perjalanan yang masih berlangsung di luar sana.
Carl Sagan pernah mengatakan bahwa kita terbuat dari star stuff, material yang berasal dari generasi bintang-bintang yang telah mati jauh sebelum Matahari lahir. Kalau itu benar, maka ada sesuatu yang terasa sangat indah ketika kita memandang langit malam.
Sebab pada akhirnya, saat kita menatap bintang-bintang itu, semesta sedang memandang dirinya sendiri melalui mata kita.
Dan malam ini, di bawah langit yang sama dengan yang pernah disaksikan Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama, para pelaut, para raja, para petani, dan miliaran manusia sebelum kita, saya merasa utuh menjadi bagian dari garis waktu yang panjang itu.

Komentar
Posting Komentar